Wednesday, April 12, 2006

Di simpang jalan.....

Suatu ketika, saya mengajak anak-2 saya untuk nonton film di sebuah teater. Eh, mereka bilang begini,”Nggak mau, malu ah, nonton film sama bapak-bapak”. Terkejut dan geli mendengar jawaban mereka yg spontan itu.

Hal di atas adalah sekedar penggalan peristiwa yg sering saya alami beberapa tahun belakangan ini yang membuat saya mengalami situasi yang rasanya tuh seperti di sebuah persimpangan jalan, yang saya benar-2 nggak ngerti di mana letak persimpangan itu ? Saya sama sekali ngggak ngerti arah mana yang harus dituju, pokoknya bener-2 linglung. Bahkan lebih parahnya lagi neeh, ngerasa nggak yakin thd jalan yg sudah ditempuh sejauh ini. Ada juga rasa diri nggak berguna, nggak bisa apa-2, nggak punya apa-2, pokoknya ngerasa diri manusia paling ancur-2 an di dunia…..hiks.

Saya nggak tahu, apakah ini gejala normal bagi orang yang menjelang dan awal-awal memasuki 4th decade dalam usia “kronologis”nya. Saya benar-2 merasa mengalami disorientasi diri (apaan neeh ?) dan nggak tahu siapa saya. Apa ini yg disebut sebagai puber ke-2, masa peralihan. Ya, masa peralihan dari “pemuda” ke “setengah baya”. Sehingga saya sering merasa “kikuk” dalam bersikap, maupun bertingkah laku……

Wednesday, March 08, 2006

Flowing.....

Kenapa saya pilih kata flowing sebagai title, ya karena itulah kata yang cocok untuk menggambarkan gaya hidupku, dan filosofi hidupku, flowing...mengalir mengikuti guratan takdir...... Mungkin orang akan mengatakan, saya terlalu santai menjalani hidup ini. Tapi sebenarnya tidak begitu, aku hanya menghadapi hidup ini dengan proporsional, kalau orang jawa bilang "sak madyo" ya kurang lebih artinya "tidak terlalu" ....tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu rendah ......tidak terlalu cepat, tapi juga juga tidak terlalu lambat, dst ....that's my life ..and I enjoy it very much ......

Tuesday, March 07, 2006

Aku.....

Nitya Adhita, itu namaku yang tercatat di Akte kelahiran, ijazah, tagihan kartu kredit, tagihan telpon, KTP, dan lain-lain. Tapi untuk gampangnya, panggil saja aku "Didit". Kalau bukan karena menghargai orang tua, yang sudah dengan sudah payah membuat namaku. Sebenarnya aku jenggah dengan namaku sendiri. Aku kurang sreg dengan kata "Nitya", bukan karena kurang indah kedengarannya, bukan pula kurang bagus maknanya. Tapi lantaran orang sering salah menyangka, bahkan kadang kekeliruan yang berkibat fatal, tapi menggelikan. Pernah aku dapat "jatah" baju seragam perempuan dari perusahaan. Di lain waktu, aku sering dapat surat dengan embel-2 Ibu, Mrs, Ms, Mbak di depan namaku. Makanya, aku lebih sering menyingkat "Nitya" jadi "N'" saja. Tahun 1965, aku dilahirkan, di sebuah kota kecil yang sejuk – yang sekarang khabarnya sudah panas – Magelang, Jawa Tengah, ya sekitar 40 Km sebelah utara Yogyakarta. Aku menyelesaikan sekolah mulai dari taman kanak-2 (TK) sampai SMA di kota ini. Sungguh ketika itu adalah suatu masa yang penuh dgn kebahagian, meski aku lalui dgn kesederhanaan. Sampai dgn usia SD, tahu putih direndam air panas, dan susu kacang hijau adalah sarapan favoriteku, karena hanya itu yang ayah-ibuku mampu berikan untukku. Sesekali sebagai variasi, garam dgn sambel, yang langsung diambil dari cobeknya..... eshh ah...lezat sekali rasanya. Tahun 1984, aku memulai hidup terpisah dari orang tua. Aku melanjutkan studi di UNPAD Bandung. Lima tahun aku susuri kawasan Geger Kalong (KPAD), Setia Budi, Dago, Siliwangi, Buah Batu, Dipati Ukur, Bagus Rangin, Merdeka, Sekeloa, Kebon Bibit, Taman Sari, Ciembuluit, …….. Tahun 1989, aku mulai masa-2 pergulatan dengan kerasnya kehidupan kota megapolitan, Jakarta. Seperti masa kanak-2 ku, masa awal kehidupanku sendiri pun, juga tidak lebih baik. Kamar kontrakan ukuran 2 x 3 M pernah aku tinggali, rumah petak dengan sumur pompa pun aku huni. Saat ini, Alkhamdulilah, Allah telah mempercayakan padaku 2 bocah laki-laki, Afi (14) dan Ardi (10), melalui istriku Yulia. Dia adalah teman kuliahku, yang aku "incer" sejak dari pertama aku melihatnya di Kampus. Dan baru "ketangkep" setelah aku selesai KKN, he…he…4 tahun Bro ! Hiks, untuk urusan beginian aku memang rada lemot. Aku bersyukur kepada Allah, dengan apapun yang telah aku peroleh hingga saat ini ....